Jumat, 07 Oktober 2011

sejarah sastra arab


MAKALAH
SEJARAH SASTRA ARAB
DAN PENGARUHNYA PADA SASTRA INDONESIA



LOGO_UNIAT.gif
Disusun Oleh :
FAUZIAH
Semester VI
NPM : 08010023




FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM ATTAHIRIYAH
JAKARTA 2011
PENDAHULUAN

Sastra dalam bahasa arabnya adalah al-adab. Sastra Arab memiliki sejarah kebahasaan. Dalam ilmu sastra Arab atau ilmu al-lugoh wa adabiha, terdapat satu cabang pengetahuan yang dikenal dengan tarikh adab atau sejarah sastra. Sejarah sastra ialah bagian dari adab al-wasfi (sastra deskriptif / nonimajinatif / nonfiksi) yang memperlihatkan perkembangan karya sastra (kontinuinitas dan perubahan sastra sepanjang sejarah), tokoh-tokoh, dan ciri-ciri dari masing-masing tahap perkembangan tersebut.[1]
Dalam sejarahnya, bahasa Arab sebagai bahasa ummat Islam berpengaruh juga terhadap dunia atau bangsa lain khususnya Indonesia.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini, untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester, makalah ini dibuat atau disusun. Dalam makalah ini akan membahas hal yang berhubungan dengan penjelasan di atas. Dengan kata lain makalah ini akan menjelaskan sejarah sastra Arab dan pengaruhnya terhadap sastra Indonesia. Berikut pambahasannya.




















PEMBAHASAN

A.            Sejarah Sastra Arab
Sejarah bahasa berkaitan erat dengan kejadian-kejadian politik, agama, dan social masyarakat yang terjadi dalam beberapa kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, ahli sejarah dan sastra telah membagi zaman sastra Arab menjadi enam masa, yaitu :
1.    Masa jahiliyah 
Masa sekitar 200 atau 150 tahun sebelum permulaan Islam, dan berakhirnya masa ini dengan datangnya agama Islam.[2] Sastra Arab jahiliah memiliki ciri-ciri yang umumnya yang menggambarkan suatu kebanggaan terhadap diri sendiri (suku), keturunan, dan gaya hidup. Terkadang syair-syair pada masa itu juga mengekspresikan ejekan, ratapan terhadap puing-puing reruntuhan, dan ekspresi keindahan terhadap wanita. Syair-syair tersebut dituliskan pada dinding Kabah. Sebagai puncak karya sastra jahiliyah, Dikenal ada dua karya sastra penting yang terkemuka yang ditulis sastrawan Arab di era pra-Islam, keduanya adalah Mu’allaqat dan Mufaddaliyat.[3] Para penyair Jahiliyah yang terkenal pada masa ini adalah Umruul Qais, Zuhair Ibnu Abi Sulma, dan Nabighah Az-Zibyani. Ketiganya terkenal dengan Mu'allaqat Sab'ah yang hasil karyanya digantung di Qiswah Ka'bah.
2.    Masa permulaan Islam
Dimulai pada masa munculnya agama Islam (di Mekkah), dan berakhir dengan berakhirnya masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib RA) pada tahun 40 hijriyah.
Dengan demikian, sastra Arab memasuki episode baru sejak agama Islam diturunkan di Jazirah Arab yang ajarannya disampaikan melalui Alquran. Kitab suci umat Islam itu telah memberi pengaruh yang amat besar dan signifikan terhadap bahasa Arab. Bahkan, Alquran tak hanya memberi pengaruh terhadap sastra Arab, namun juga terhadap kebudayaan secara keseluruhan. Bahasa yang digunakan dalam Alquran disebut bahasa Arab klasik. Hingga kini, bahasa Arab klasik masih sangat dikagumi dan dihormati. Alquran merupakan firman Allah SWT yang sangat luar biasa. Terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat, Alquran berisi tentang perintah, larangan, kisah, dan cerita perumpamaan itu begitu memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan sastra Arab.
Sebagian orang menyebut Alquran sebagai karya sastra terbesar. Namun, sebagian kalangan tidak mendudukan Alquran sebagai karya sastra, dengan asumsi karena merupakan firman Allah SWT yang tak bisa disamakan dengan karya manusia. Teks penting lainnya dalam agama Islam adalah hadits atau sunnah.
Di samping itu ketika Islam datang di semenanjung Arab dengan diutusnya Rasullah, maka ada perubahan dalam tema-tema tersebut. Pada saat Islam datang, kalimat-kalimat awal pada puisi itu berisi tentang puji-pujian kepada Rasulullah, selanjutnya diisi dengan hal-hal lain yang diinginkan penyair tersebut.
Penelitian serta penelusuran terhadap masa-masa kehidupan Nabi Muhammad SAW telah memicu para sarjana Muslim untuk mempelajari bahasa Arab. Atas dasar pertimbangan itu pula, para intelektual Muslim mengumpulkan kembali puisi-puisi pra-Islam. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kehidupan Rasulullah sampai akhirnya menerima wahyu dan menjadi Rasul. Jejak dan perjalanan hidup Muhammad SAW yang begitu memukau juga telah mendorong para penulis Muslim untuk mengabadikannya dalam sebuah biografi yang dikenal sebagai Al-Sirah Al-Nabawiyyah. Sarjana Muslim yang pertama kali menulis sejarah hidup Nabi Muhammad adalah Wahab bin Munabbih. Namun, Al-Sirah Al-Nabawiyyah yang paling populer ditulis oleh Muhammad bin Ishaq.[4]
Adapun studi bahasa Arab pertama kali sebenarnya telah dilakukan sejak era kekhalifahan Ali RA. Hal itu dilakukan setelah khalifah melakukan kesalahan saat membaca Alquran. Dia lalu meminta Abu Al-Aswad Al- Du’ali untuk menyusun tata bahasa (gramar) bahasa Arab. Khalil bin Ahmad lalu menulis Kitab al- Ayn – kamus pertama bahasa Arab. Sibawaih merupakan sarjana Muslim yang menulis tata bahasa Arab yang sangat populer yang berjudul al-Kitab.
3.    Masa Umawiyyah
Dimulai dengan berdirinya Daulah Umawiyah tahun 40 hijriyah, dan berakhir dengan jatuhnya dinasti ini pada tahun 132 hijriyah. [5]
Sejarah mencatat, sastra sangat berkembang pesat di era keemasan Islam. Di masa kekhalifahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa Muslim. Tak heran, bila di zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Di era kekuasaan Dinasti Umayyah (661 M – 750 M), gaya hidup orang Arab yang berpindah-pindah mulai berubah menjadi budaya hidup menetap dan bergaya kota.
Pada era itu, masyarakat Muslim sudah gemar membacakan puisi dengan diiringi musik. Pada zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan dengan musik. Sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.
Tema-tema puisi pada masa ini, isinya lebih langsung ke sasaran, to the point, apakah tentang pujian, ejekan, cinta dan lain-lain. Syair yang menonjol pada masa ini lebih banyak bercerita tentang percintaan dan  wanita. Selain itu ada juga tema-tema politik tentang sekte-sekte pada kelompok Islam. Pada zaman ini ada kebebasan untuk mengungkapkan apa yang diinginkan para penyair.
4.    Masa Abasiyyah
Dimulai dengan berdirinya Daulah Abasiyah tahun 132 hijriyah, dan berakhir dengan penyerbuan Mongolia ke negeri Baghdhad tahun 656 hijriyah.[6]
Sastra makin tumbuh di era kekuasaan Daulah Abbasiyah - yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun berkuasa. Pada era itu, prosa Arab mulai menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi. Puisi sekuler dan puisi keagamaan juga tumbuh beriringan. Penyair-penyair sangat bnayak pada zaman ini, contohnya saja yang paling terkenal adalh tokoh Abu Nawas yang hidup pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid.
Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang sastrawan yang melahirkan prosa-prosa jenius pada masa itu bernama Abu ‘Uthman ‘Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M - 869 M), cucu seorang budak berkulit hitam. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah Kitab al-Hayawan, atau ‘Buku tentang Binatang’ sebuah antologi anekdot-anekdot binatang yang menyajikan kisah fiksi dan non-fiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah Kitab al-Bukhala.
Masa Bani Abbasiyah, banyak hal yang terjadi dan banyak penyair yang terkenal yang memiliki kebiasaan masing-masing. Pada dekade terakhir muncul tokoh-tokoh penyair pada masa akhir Bani Abbasiyah seperti Abu Thoyyib Al Mutanabbi yang pengaruhnya hingga ke Eropa.
5.      Masa Pertengahan
Masa ini meliputi dua dinasti, yaitu Dinasti Mamluki dan Ustmani. Dimulai pada tahun 656 Hijriyyah, setelah runtuhnya dinasti Abbasiyah karena penyerbuan orang Mongol dan timbulnya Mesir di bawah pimpinan Muhammad Ali dalam lingkungan Imperium Utsmaniyah, masa ini ditandai dengan tidak adanya lagi semangat lingkungan yang kreatif dan bakat perseorangan yang menonjol seperti yang pernah ada. Masa kemunduran ini perlahan mulai bangkit sejalan dengan dorongan-dorongan pembaruan dari dalam dan tantangan pengaruh Barat.[7]
6.    Masa Modern
Dimulai dengan munculnya gerakan-gerakan perbaikan di sejumlah negeri Arab, dan bersamaan dengan permulaan abad 19 hijriyah (1900 Masehi) hingga saat ini.
Permulaan setiap masa dan berakhirnya sastra Arab ini, tidaklah ditentukan secara detail. Ditentukan hanyalah dari penentuan secara perkiraan. Sejarah ini dibuat untuk mengetahui perubahan yang terjadi.[8]

B.            Pengaruhnya terhadap Sastra Indonesia

Sastra menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam. Sejarah sastra Islam dan sastra Islami tak lepas dari perkembangan sastra Arab. Sebab, bahasa Arab merupakan bahasa suci Islam dan Alquran. Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya atau bentuk Qur'ani mampu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik dan bentuk formal lainnya. Sastra Arab atau Al-Adab Al-Arabi tampil dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama, dan puisi. Sastra Arab menjadi salah satu embrio ikon peradaban islam di bidang sastra. [9]
Islam masuk ke Indonesia melalui proses yang panjang. Sebelum masuknya Islam ke Indonesia, sastra Indonesia didominasi oleh sastra Hindu (Hikayat Pandawa, Hikayat Sri Rama, Pancatantra). Sejarah mengatakan Islam masuk melalui saudagar-saudagar dari Arab yang singgah di negeri Indonesia. Melalui proses perdagangan ini, secara tak langsung Islam menyebar dan bahasa Arab sebagai bahasa Islam mulai berpengaruh terhadap budaya Indonesia. Dengan masuknya agama Islam ke Indonesia Lama, mulailah zaman baru dalam sasra Indonesia dan mulai beralih haluan ke dalam sastra yang berasal dari negeri Islam. Pengaruh Islam yang membawa bahasa Arab sebagai bahasa keagamaan membawa asimilasi budaya antara Indonesia dengan Arab yang kemudian dikenal dengan bahasa Arab-Melayu.
Agama Islam yang berkembang dengan pesat di Indonesia sejak abad ke-13 juga mempengaruhi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Kesusastraan Indonesia secara tertulis mulai pada zaman Islam ini. Sastra Indonesia yang berkembang pada masa ini adalah hikayat. Hikayat-hikayat pada waktu itu ditulis dengan huruf Arab-Melayu, akan tetapi kesusastraan tertulis baru sampai pada kita kebanyakan pada pemulaan abad ke-17.[10]
Hasil-hasil sastra Indonesia pengaruh Islam ini dapat digolongkan dalam beberapa golongan, yaitu:
1.        Kisah tentang para Nabi; Diantaranya naskah-naskah yang berjudul "Qissasul Anbiya", "Suratul Anbiya", "Kikayat Anbiya".
2.        Hikayat tentang Nabi Muhammad SAW dan keluarganya; Antara lain berjudul "Hikayat Nabi Muhammad", "Hikayat Nabi Bercukur", "Hikayat Bulan Berbelah", "Hikayat Nur Muhammad", "Hikayat Nabi Mikraj", "Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah", "Hikayat Iblis dan Nabi", "Hikayat Nabi Mengajar Ali", dan Hikayat Nabi Wafat".
3.        Hikayat pahlawan-pahlawan Islam; dalam golongan ini dikenal "Hikayat Amir Hamzah", "Hikayat Iskandar Zulkarnain", dan "Hikayat Muhammad Hanafiyah".
4.        Cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam; Judul-judulnya yang dikenal antara lain "Hikayat Seribu Masalah", "Siratal Mustakim", "Hikayat Fartana Islam", dan "Sakaratul Maut".
5.        Cerita fiktif; Dalam jenis ini kita jumpai "Hikayat Tamin Ad-Dari", Hikayat Abu Samah", "Hikayat Samaun", Hikayat Raja Khaibar", "Hijayat Pendeta Ragib", dan "Hikayat Raja Handak".  
6.        Cerita mistik atau tasawuf. Pengarang mistik yang terkenal yaitu:
·      Hamzah Fansuri dengan karyanya antara lain "Syair Perahu", "Syair si Burung Pingai", "Syair Dagang", "Syarab al-Asyikin", dan "Asrar al-arifin fi bayan ilm as-suluki wat tauhid".
·      Samsuddin as-Sumatrani dengan karangannya "Mir'at al-Mukmin", dan "Mir'at al-Muhaqqiqin".
·      Abdul Rauf Sinkli dengan karangannya "Mir'at al-Tulab", "Mujmu' al-Masail", dan "Umdat al-Muhtajin".
·      Dan yang terakhir Nuruddin ar-Raniri dengan karangannya yaitu "Asrar al-insan fi ma'rifat al-ruh wa al-rahman", "Tibyan fi ma'rifat ad-din", "Hujjat as-siddiq li daf az-zindiq", dan "Hil az-Zil".
Sebagian besar cerita atau hikayat tersebut naskah-naskahnya menggunakan huruf Arab-Melayu dan tulisan tangan.[11]
            Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional ternyata juga banyak terpengaruh dari bahasa Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahkan juga dalam bentuk formal. Sebagai contoh, musyawarah dari مُشَاوَرَة, sedekah dari صَدَقَة, rakyat dari رُعْيَة, lahir dari  ظَاهِر, batin dari بَاطِن, dan masih banyak lagi. Semua itu karena pengaruh bahasa Arab yang telah berjalan sekian lama dan menjadi bahasa Indonesia.[12]
Karya sastra lain yang dipengaruhi dari Arab adalah syair. Di negeri Arab sendiri ada syair-syair yang sangat mendunia karena keindahannya yaitu syair dan Indonesia sendiri sedikit terpengaruh dari Arab dengan bentuk sajak a-a atau a-b a-b yang memiliki kesamaan dengan gaya akhir kalimat yang dipakai dalam syair Arab yang menggunakan kalimat dengan akhiran yang sama.
            Pengaruh bahasa Arab juga mempengaruhi nama-nama di Indonesia, banyak orang yang sudah sangat lazim menggunakan bahasa Arab sebagai nama yang terkadang di ambil dari beberapa nama tokoh Islam atau istilah-istilah Arab yang memiliki nilai, arti, dan maksud tertentu, yang tentu saja diharapkan berarti baik dan bagus bagi yang memiliki nama tersebut. Semua itu merupakan bukti adanya pengaruh Arab baik itu dari segi tata bahasa, sastra maupun sejarahnya dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

KESIMPULAN

Ahli sejarah dan sastra telah membagi zaman sastra Arab menjadi enam masa, yaitu :
1.      Masa jahiliyah  : Masa sekitar 200 atau 150 tahun sebelum permulaan Islam, dan berakhirnya masa ini dengan datangnya agama Islam.
2.      Masa permulaan Islam : Dimulai dengan munculnya Islam secara sempurna melalui al-Quran yang dibawa Nabi Muhammad SAW sampai berakhirnya kekhlifahan.
3.      Masa Umawiyah : Dimulai dengan berdirinya Daulah Umawiyah tahun 40 hijriyah, dan berakhir dengan jatuhnya dinasti ini pada tahun 132 hijriyah.
4.      Masa Abasiyyah : Masa kejayaan, dimulai dengan berdirinya Daulah Abasiyah tahun 132 hijriyah, dan berakhir dengan penyerbuan Mongolia ke negeri Baghdhad tahun 656 hijriyah.
5.      Masa Pertengahan : Masa kemunduran, masa ini meliputi dua dinasti, yaitu Dinasti Mamluki dan Ustmani. Dimulai pada tahun 656 Hijriyyah, setelah runtuhnya dinasti Abbasiyah.
6.     Masa Modern : Masa dimana mulai bangkit kembali, dmulai dengan munculnya gerakan-gerakan perbaikan di sejumlah negeri Arab, dan bersamaan dengan permulaan abad 19 hijriyah (1900 Masehi) hingga saat ini.

Pengaruh bahasa Arab terhadap Indonesia sangat kuat sekali.  aspek yang dipengaruhi dari bahasa Arab antara lain adalah :
·          Sastra Melayu klasik berupa hikayat yang ditulis dengan bahasa Arab-Melayu.
·          Bahasa komunikasi sehari-hari bahkan sering digunakan dalam bahasa formalitas yang sebagian diserap dari kosa kata Arab.
·          Penggunaan sajak dalam syair
·          Penggunahan bahasa Arab dalam nama. 

           






DAFTAR PUSTAKA

Edwar Jamaris, Dr., Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik, Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Syeikh Muhammad Al-Iskandi, Syeikh Mustofa 'Anani, Al-Wasit Fil Adabil 'Arabi wa Tarikhuhu, Mesir: Dar El Ma'arif, 1916.

William Jones, Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex, 1774, @ http://www.ivankavalera.com/2009/08/kontribusi-islam-bagi-sastra-dunia.html

Hartojo Andangdjaja, Puisi Arab Modern, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1983.
Drs. Murodi, MA., Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997.
Dr. Sukron Kamil, MA., Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.


[1]  Dr. Sukron Kamil, MA., Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hlm. 5.
[2] Syeikh Muhammad Al-Iskandi, Syeikh Mustofa 'Anani, Al-Wasit Fil Adabil 'Arabi wa Tarikhuhu, Mesir: Dar El Ma'arif, 1916, hlm. 10.
[3] Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex (1774M) oleh William Jones @ http://www.ivankavalera.com/2009/08/kontribusi-islam-bagi-sastra-dunia.html
[4] Idem.
[5] Syeikh Muhammad Al-Iskandi, Syeikh Mustofa 'Anani, Al-Wasit Fil Adabil 'Arabi wa Tarikhuhu, hlm.10.
[6] Mustofa 'Anani, Alwasit, hlm. 10.
[7] Hartojo Andangdjaja, Puisi Arab Modern, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1983, hlm. 13.
[8] Idem.
[9] William Jones, Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex, 1774, @ http://www.ivankavalera.com/2009/08/kontribusi-islam-bagi-sastra-dunia.html
[10] William Jones, Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex, 1774, @ http://www.ivankavalera.com/2009/08/kontribusi-islam-bagi-sastra-dunia.html
[11] Edwar Jamaris, Dr., Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik, Jakarta: Balai Pustaka, 1990, hlm. 109-111.
[12] Drs. Murodi, MA., Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997, hlm.124.